Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Kalinga Bodhi Jataka (J 479)

 

 

"Raja Kalinga," dan seterusnya --- Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagava ketika Beliau berdiam di Jetavana mengenai pemujaan terhadap pohon Bodhi yang dilakukan oleh Y.A. Ananda Thera.

 

Ketika Sang Bhagava sedang dalam perjalanan dengan tujuan untuk membantu menyelamatkan mereka yang batinnya telah matang, penduduk Savatthi pergi ke Jetavana, tangan mereka penuh dengan bunga dan rangkaian wangi-wangian, melihat tidak ada tempat lain yang pantas untuk menunjukkan penghormatan mereka, meletakkannya di pintu Gandhakuti (kamar wangi), lalu pergi. Ini menyebabkan banyak yang merasa berbahagia. Tetapi Anathapindika mendengar mengenai hal itu; dan setelah Sang Tathagata kembali menjumpai Y.A. Ananda Thera dan berkata kepadanya, "Bhante, Padepokan ini tidak ada apa-apa, jika Sang Tathagata sedang pergi ke luar kota, tidak ada tempat bagi orang-orang untuk memberi penghormatan dengan rangkaian wangi-wangian dan bunga-bunga. Sudilah kiranya Bhante memberitahukan mengenai hal ini kepada Sang Bhagava dan bertanya kepada Beliau apakah mungkin mencari tempat untuk keperluan ini." Y.A. Ananda Thera dengan kesungguhan melakukan yang diminta, ia bertanya kepada Sang Buddha, "Ada berapakah altar untuk objek pemujaan?" "Tiga, Ananda." "Yang mana sajakah?" "Altar untuk pemujaan sisa-sisa kremasi tubuh, sisa-sisa benda yang dipakai dan sisa-sisa peringatan." "Bisakah sebuah altar pemujaan dibuat semasa Sang Bhagava masih hidup?" "Tidak, Ananda, altar relik tubuh tidak bisa; altar untuk sisa-sisa peninggalan tubuh dibuat jika Sang Buddha telah Parinibbana. Altar peringatan tidak pantas sebab hanya berhubungan dengan imajinasi saja.

 

Tetapi pohon Mahabodhi yang dipergunakan oleh Sang Buddha tepat untuk altar, dalam keadaan hidup ataupun mati." "Bhante, ketika Bhante sedang pergi ke tempat lain Jetavana Maharama tidak terlindungi dan orang-orang tidak memiliki tempat untuk menunjukkan penghormatannya. Haruskah saya menanam benih pohon Mahabodhi di depan gerbang Jetavana?" "Silahkan lakukan Ananda dan perlakukanlah itu bagaikan tempat tinggal-Ku."

 

Y. A. Ananda Thera menberitahukan hal ini kepada Anathapindika, dan Y.A. Visakha, juga kepada Raja. Kemudian di gerbang pintu Jetavana, Beliau membersihkan lubang yang dipersiapkan untuk menanam pohon Bodhi dan berkata kepada Dhammasenapati Y.A. Mogallana, "Saya ingin menanam pohon Bodhi di depan Jetavana. Maukah Anda mengambilkan buah dari pohon Mahabodhi?" Y.A. Mogallana Thera, dengan senang hati terbang ke udara ke tempat datar di bawah pohon Mahabodhi. Beliau mengambil sebiji buah dari pohon Mahabodhi yang telah jatuh dari tangkainya tetapi belum menyentuh tanah, membawa pulang ke vihara dan memberikannya kepada Y.A. Ananda Thera. Y.A. Ananda Thera memberitahukan kepada Raja Kosala bahwa Beliau akan menanam pohon Bodhi pada hari itu. Jadi pada malam hari Raja datang dengan banyak pengikut, membawa segala keperluan; kemudian Anathapindika dan Y.A. Visakha juga datang disertai umat yang percaya.

 

Di tempat yang akan ditanam pohon Bodhi , Y.A. Ananda Thera menempatkan mangkuk emas yang di dasarnya berlubang di mana semua terisi dengan tanah yang dillembabkan dengan air harum. Ia berkata, "Oh, Baginda, tanamlah benih pohon Bodhi ini." Ia memberikannya kepada Raja tetapi Raja yang berpikir bahwa kerajaannya tak akan berada padanya selamanya dan bahwa Anathapindika yang seharusnya menanamnya, lalu memberikannya kepada Anathapindika, pedagang besar. Kemudian Anathapindika mengaduk tanah harum tersebut dan meletakkan benih itu didalamnya. Saat itu juga seketika setelah terlepas dari tangannya disaksikan semua orang, benih itu tumbuh menjadi pohon Bodhi yang besar selebar mata bajak, setinggi lima puluh hasta (kurang lebih 25 meter), di keempat sisinya tumbuh lima cabang utama yang panjangnya juga lima puluh hasta, bagaikan belalai. Sejak pohon itu berdiri, langsung menjadi raja pepohonan di hutan, keajaiban yang luar biasa! Raja menuangkan air harum ke mangkuk emas dan mangkuk perak yang berjumlah delapan ratus dan diperindah dengan bunga lili air di sekeliling pohon. Ia menyebabkan barisan panjang mangkuk-mangkuk, semua terisi penuh, satu kursi yang terbuat dari tujuh macam benda berharga, ia menyebarkan debu emas di sekelilingnya, dibuat dinding di sekeliling pohon, ia mendirikan ruang gerbang yang terbuat dari tujuh macam benda berharga. Luar biasa penghormatan yang diberikan pada pohon Bodhi tersebut.

 

Y.A. Ananda mendekati Sang Tathagata dan berkata kepadanya, " Bhante, untuk kebaikan orang banyak, capailah penerangan tertinggi dibawah pohon Bodhi yang telah saya tanam, pencapaian yang telah Bhante capai di bawah pohon Mahabodhi."

 

"Apakah yang kamu katakan ini, Ananda?" tanya Beliau.

 

"Tidak ada tempat lain yang dapat mendukung saya, jika saya duduk disana dan mencapai seperti apa yang telah saya capai dibawah pohon Mahabodhi."

 

"Bhante," jawab Y.A. Ananda, "Semoga Bhante mencapai Nibbana sejauh yang dapat didukung beratnya oleh tempat ini." Sang Buddha menggunakannya selama satu malam untuk mencapai Nibbana.

 

Y.A. Ananda Thera memberitahukan kepada Raja dan yang lainnya dan menamakannya sebagai festival pohon Bodhi. Dan pohon Bodhi yang telah ditanam oleh Y.A. Ananda ini disebut sebagai pohon Bodhi Ananda.

 

Pada saat itu mereka mulai memperbincangkan hal itu di Dhammasala. "Avuso, walaupun Sang Tathagata masih hidup, Bhante Ananda menyebabkan pohon Bodhi ditanam dan besar penghargaan yang diberikan terhadap pohon itu. Luar biasa kekuatan Y.A. Ananda Thera!"

 

Sewaktu Sang Buddha masuk, Beliau bertanya apa yang mereka perbincangkan. Mereka mengatakan apa yang menjadi topik pembicaraan mereka. Sang Buddha berkata, "Para Bhikkhu, ini bukan untuk pertama kalinya Ananda memancing perhatian manusia di keempat benua dan semua masyarakat yang berada disekelilingnya, dan menyebabkan orang membawa rangkaian bunga harum yang luar biasa banyaknya untuk melaksanakan festival pohon Bodhi di tempat pohon Mahabodhi." Setelah berkata demikian Beliau menceritakan kisah masa lalu.

 

Pada suatu ketika, di kerajaan Kalinga dan di kota Dantapura, bertahta raja bernama Kalinga. Beliau memiliki dua orang putera, yang bernama Maha Kalinga dan Culla Kalinga atau Kalinga besar dan Kalinga kecil. Peramal telah meramalkan bahwa putera yang sulung akan memerintah setelah ayah mereka mangkat; sedangkan yang bungsu akan hidup sebagai pertapa dan hidup dengan ber-pindapatta tetapi puteranya akan menjadi Cakkavatti, raja penguasa dunia.

 

Waktu berlalu, setelah ayah mereka mangkat putera sulung diangkat sebagai raja dan yang bungsu diangkat menjadi raja muda. Putera bungsu, yang selalu berpikir bahwa putera yang akan dilahirkannya akan menjadi raja penguasa dunia menjadi congkak karenanya. Hal ini tak dapat dibiarkan oleh Raja, ia lalu mengirim utusan untuk menangkap Culla Kalinga. Utusan ini datang dan berkata kepadanya, "Pangeran, Raja ingin menangkapmu, jadi selamatkanlah dirimu." Sang Pangeran memperlihatkan kepada utusan itu ketiga benda petanda dirinya; cincin, selembar permadani yang halus dan pedang. Kemudian ia berkata, "Dengan barang-barang ini kamu akan mengenal putera saya, jadikanlah ia sebagai raja." Dengan kata-kata ini ia pergi melarikan diri ke hutan. Di sanalah ia membangun sebuah pondok di tempat yang menyenangkan dan tinggal sebagai pertapa di tepi sungai.

 

Pada waktu itu di kerajaan Madda di kota Sagala lahir seorang puteri dari raja Madda. Puteri ini juga diramalkan akan hidup sebagai pertapa, tetapi puteranya akan menjadi raja penguasa dunia. Para raja di India, mendengar ramalan ini, mereka datang secara bersamaan dengan tujuan yang sama (yaitu mempersunting calon ibu raja penguasa dunia) dan mengepung kota. Raja berpikir, "Jika sekarang ini saya memberikan puteri saya kepada salah seorang diantara mereka, raja-raja yang lain akan marah. Saya akan berusaha menyelamatkannya." Lalu dengan menyamar ia melarikan diri bersama isteri dan puterinya ke hutan. Setelah membangun sebuah pondok pada jarak agak jauh di hulu, di atas pondok Pangeran Kalinga, ia tinggal disana sebagai pertapa dan memakan apa yang bisa di makan.

 

Sepasang orang tua ini yang berusaha menyelamatkan puterinya, meninggalkannya di pondoknya dan pergi untuk mengumpulkan buah-buah hutan. Ketika pergi puteri mereka mengumpulkan berbagai macam bunga dan merangkainya menjadi kalungan bunga. Pada waktu itu di tepi sungai Gangga ada pohon mangga yang berbunga indah, yang cabang-cabangnya membentuk seperti tangga alamiah. Ia memanjat melalui cabang-cabang ini dan bermain-main dengan menjatuhkan kalungan bunga ke sungai.

 

Suatu hari Keika Pangeran Kalinga sedang menyembul keluar dari berendam di bawah permukaan sungai, kalungan bunga ini menyangkut di kepalanya.

 

Ia melihat kalungan bunga itu dan berkata, "Ada wanita yang membuat kalungan ini tetapi bukan wanita dewasa melainkan seorang gadis muda yang halus. Saya harus mencarinya." Dengan rasa cinta mendalam ia menyusuri sungai Gangga ke arah hulu, hingga mendengar puteri raja Madda sedang bersenandung dengan suara yang merdu, ketika sedang duduk di pohon mangga. Ia mendekati batang pohon, melihatnya dan berkata, "Makhluk apakah sebenarnya kamu ini, wanita?"

 

"Saya seorang manusia, Tuan," ia menjawabnya.

 

"Jika demikian turunlah " ujarnya . "Tuan, saya tak boleh sebab saya dari kasta ksatria." "Demikian juga saya wanita, turunlah!"

 

"Tidak bisa tuan, saya tak dapat melakukan hal itu. Pengakuan saja tidak membuat seseorang menjadi kasta ksatria; jika anda memang berkasta ksatria, beritahukanlah kata-kata rahasianya." Kemudian mereka saling mengucapkan kata rahasia kasta ksatria. Dan sang puteri lalu turun kemudian mereka berhubungan satu sama lain.

 

Ketika orang tuanya kembali ia menceritakan mengenai putera dari raja Kalinga ini, bagaimana ia melarikan diri ke hutan, semuanya secara mendetil. Mereka setuju untuk memberikan puterinya kepada Culla Kalinga. Dalam kebahagiaan dan kerukunan rumah tangga mereka, isterinya mengandung dan setelah sepuluh bulan melahirkan seorang putera dengan tanda-tanda kebajikan dan rejeki yang besar dan mereka menamakannya Kalinga. Ia tumbuh dan belajar berbagai ilmu dan keahlian dari ayah dan kakeknya.

 

Setelah beberapa lama ayahnya mengetahui dari kedudukan bintang-bintang bahwa saudaranya telah meninggal. Jadi ia memanggil puteranya dan berkata, "Anakku, kamu tidak boleh melewatkan sisa hidupmu di hutan. Kakak ayahmu, Maha Kalinga, telah wafat, kamu harus pergi ke Dantapura dan menerima warisan kerajaanmu." Kemudian ia memberikan semua barang yang selama ini dibawa serta kemana-mana, yaitu cincin tanda kebesarannya, permadani dan pedang, lalu berkata, "Anakku, di kota Dantapura, di jalan ini, tinggal seorang utusan yang merupakan pelayanku yang sangat baik. Pergilah ke rumahnya dan masukilah kamarnya, lalu perlihatkan ketiga barang ini sebagai tanda dan katakan bahwa kamu adalah puteraku. Ia akan menempatkanmu ke singgasana."

 

Pemuda ini mengucapkan selamat tinggal kepada orang tua dan kakek neneknya. Oleh kekuatan kebajikannya sendiri ia terbang ke udara dan turun di rumah utusan tersebut lalu memasuki kamar tidurnya. "Siapakah kamu?" tanyanya. "Putera Culla Kalinga," jawabnya, lalu memperlihatkan ketiga benda sebagai bukti. Utusan mengabarkan kepada seisi istana dan seisi istana menghias seluruh kota dan membentangkan payung kebesaran raja diatas kepalanya.

 

Kemudian penasehat mengajarkan sepuluh macam upacara yang harus dilakukan oleh seorang Cakkavatti, dan ia memenuhi kesepuluh kewajiban tersebut. Kemudian pada hari kelima belas, hari Uposatha, datanglah pusaka roda dari Cakkadaha ke hadapannya. Dari keturunan jenis uposatha muncullah pusaka gajah kerajaan, dari keturunan Valaha yang istimewa muncul pusaka kuda, juga muncul putera-putera yang gagah perkasa. kemudian ia menguasai seluruh dunia tanpa kekerasan.

 

Suatu hari, diiringi oleh rombongan yang menutupi areal seluas tigapuluh enam yojana dan dengan menunggangi gajah yang seluruhnya putih, tinggi bagai puncak gunung Kelasa dalam kemegahan dan keagungannya ia pergi mengunjungi orang tuanya melalui udara, tetapi di atas lingkaran di sekitar pohon Bodhi, singgasana kemenangan para Buddha, yang menjadi pusar bumi, di atas tempat ini gajah pusaka tak dapat lewat: berulang-ulang Raja menyuruhnya untuk maju, tetapi ia tetap tak dapat lewat.

 

Dalam menerangkan hal ini Sang Bhagava mengucapkan syair yang pertama :

"Raja Kalinga penguasa tertinggi,
Memerintah bumi dengan
Dhamma dan kebenaran,
Ke pohon Bodhi suatu ketika ia datang
Di atas gajah yang gagah."

 

Melihat hal ini penasehat raja, yang ikut dalam perjalanan bersama Raja berpikir, "Di udara tak ada halangan, mengapa Raja tak dapat membuat gajahnya lewat? Saya akan pergi untuk melihat." Ketika turun dari udara, ia melihat singgasana kemenangan Para Buddha, yang merupakan pusar bumi, lingkaran yang mengelilingi pohon Mahabodhi. Pada saat itu dikatakan bahwa, pada jarak satu karisa tak ada rumput sehelaipun walaupun hanya seukuran kumis kelinci, tempat sekitar itu nampak halus nampaknya bagai ditabur pasir halus yang cerah bagai piring perak.

 

Tetapi di semua sisi di luar areal rumput, tumbuhan menjalar, pohon-pohon yang luar biasa besarnya yang dominan di hutan, bagai berdiri menghormat, semua tumbuhan ini bagai memberi hormat dengan arah menghadap singgasana pohon Bodhi. Ketika sang brahmana penasehat melihat tempat ini ia berpikir, "Inilah tempat Para Buddha menghancurkan nafsu ragawi dan di atas tempat tak ada sesuatupun yang dapat lewat, walaupun Sakka raja dewa sekalipun." Kemudian ia mendekati Raja, ia menceritakan keadaan sekeliling pohon Bodhi dan memintanya turun.

 

Untuk menerangkan hal ini Sang Bhagava mengucapkan syair berikut :

"Hal ini diberitahukan oleh Kalinga-Bharadvaja kepada rajanya yang putra pertapa,
Selagi memutar roda pusaka kerajaan, membimbingnya, patuh kepadanya,
Inilah tempat yang dinyanyikan oleh para penyair. Oh, Maharaja, turunlah!
Disinilah dicapai kebijaksanaan sempurna oleh para Sammasambuddha, yang bersinar terang.
Di dunia, menurut tradisi, tempat yang satu ini adalah tanah suci,
Di mana tumbuhan obat, dan tumbuhan menjalar tumbuh di sekitarnya,
Kemari, turunlah dan memberi hormat, sebab sejauh batas samudera,
Di bumi yang subur semua bertumbuh, tempat yang satu inilah tanah yang disucikan,
Semua gajah yang anda miliki, dari galur (trah) terbaik dari induk dan bibitnya,
Helalah ke mari, mereka pasti datang sejauh ini tetapi tak akan lebih jauh,
Yang anda tunggangi adalah galur unggul, kendalikanlah tunggangan itu sesukamu,
Ia tak akan maju lebih jauh, 'Gajah itu tak bergerak di sini.
Sang peramal telah berbicara, dengarlah Kalinga; kemudian Raja menjawab,
Sebaiknya yang anda katakan benar, akan kita lihat.
Raja menusuk gajah dengan tongkat
Gajah pusaka menguak sekuatnya karena tertusuk, bagai bangau heron menangis,
Bergerak, kemudian jatuh terduduk tak dapat bangun karena berat badannya.

Ditusuk lagi berulang-ulang oleh raja, gajah tersebut tak dapat menahan sakitnya, lalu mati; tetapi Raja tidak mengetahui bahwa ia sudah mati, dan terus duduk diatas punggungnya. Kemudian Kalinga-Bharadvaja berkata, "Oh, Maharaja! Gajahmu telah mati; pindahlah pada yang lain."

 

Untuk menerangkan hal ini, Sang Bhagava mengucapkan syair kesepuluh :

"Ketika Kalinga-Bharadvaja melihat gajah-nya telah mati,
Ia dalam ketakutan dan kecemasan kemudian berkata kepada Raja Kalinga:
Carilah yang lain, Raja Perkasa: gajah anda ini telah mati."

 

Oleh karena kebajikan kekuatan gaib Raja, hewan lain yang juga berasal dari galur (trah) uposatha muncul dan menawarkan punggungnya. Raja duduk di punggungnya. Pada saat itu gajah yang mati jatuh ke tanah.

 

Untuk menerangkan hal ini Sang Bhagava mengulangi syair yang lain :

"Mendengar hal ini, Kalinga yang merasa cemas
Naik tunggangan lain dan langsung saat itu juga
Bangkai gajah itu turun ke tanah
Dan setiap kata yang diucapkan oleh sang peramal terbukti."

 

Lalu Raja turun dari udara dan melihat tempat pohon Bodhi dan keajaiban yang terjadi, ia memuji Bharadvaja, lalu berkata,

 

"Kepada Kalinga-Bharadvaja, Raja Kalinga berkata demikian; Anda yang paling mengerti dan mengetahui dan anda melihat semuanya." Brahmana Kalinga-Bharadvaja tidak menerima pujian ini; tetapi berdiri di tempatnya sendiri dengan rendah hati, memuji Para Buddha dan memuja mereka.

 

Untuk menerangkan hal ini Sang Bhagava mengulangi syair-syair berikut ini :

"Tetapi Sang Brahmana langsung menyangkalnya, dan berkata kepada Raja
Saya mengerti meramal melalui tanda dan benda, tetapi Sang Buddha mengerti segalanya.
Walaupun tahu dan melihat semua, tetapi mereka tak mengerti dengan tanda.
Mereka tahu segalanya tetapi melalui pandangan terang, sedangkan saya masih dari buku"

 

Sang Raja mendengar kebajikan Para Buddha, hatinya merasa senang; dan ia menyebabkan semua penghuni dunia untuk membawa rangkaian bunga harum yang berlimpah dan selama tujuh hari ia mengajak mereka melakukan puja disekeliling pohon Maha-Bodhi.

 

Untuk menerangkan hal ini Sang Bhagava mengucapkan beberapa syair :

"Demikianlah ia memuja pohon Maha-Bodhi dengan berbagai suara musik yang merdu dan dengan rangkaian bunga harum; ia mendirikan tembok di sekelilingnya,
Dan setelah itu Raja pergi melanjutkan perjalanan
Ia membawa bunga enam puluh ribu pedati untuk memuja;
Demikianlah Raja Kalinga memuja sekeliling pohon Bodhi."

 

Setelah memuja pohon Mahabodhi dengan cara ini, ia mengunjungi orang tuanya dan membawa mereka kembali ke Dantapura dan ia rajin berdana dan melakukan perbuatan baik, hingga ia terlahir kembali di alam dewa Tavatimsa.

 

Sang Bhagava, setelah menyelesaikan pembabaran Dhamma berkata, "Para Bhikkhu, ini bukan untuk yang pertama kalinya Ananda memuja pohon Bodhi, tetapi di masa yang lampau juga demikian;" Kemudian Sang Buddha mengungkapkan kelahiran masa lampau: "Pada saat itu Ananda adalah Kalinga dan Saya sendiri adalah Kalinga-Bharadvaja."

 

[Sumber Asli: JatakaStories, translated into english by W.H.D. Rouse, M.A.
Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.26/Tahun VIII/ 2002. Diterjemahkan oleh Dhanariyo.]

 

 

Hits: 21