Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Panc-Uposatha Jataka (J 490)

 

 

Cerita ini disampaikan oleh Sang Bhagava ketika berdiam di Jetavana, mengenai 500 umat awam yang sedang melaksanakan sumpah Sabbath. Pada saat itu dikatakan bahwa Sang Bhagava duduk diatas Singgasana Agung, di dalam Aula Kebenaran, di tengah-tengah empat jenis pendengar yakni bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, dan upasika. Beliau memandang ke sekeliling kumpulan dengan hati yang lembut, dan menetapkan bahwa hari ini khotbah akan berkisar tentang umat awam.

 

Kemudian Beliau berkata, "Apakah umat awam sudah menjalankan sumpah Sabbath?"

 

"Ya, Bhante, mereka sudah menjalankannya."

 

"Bagus sekali, hari Sabbath adalah praktik orang-orang bijaksana zaman dulu. Mereka melaksanakan peringatan Sabbath untuk menaklukkan nafsu dan keinginan duniawi"

 

Kemudian atas permintaan mereka, Beliau menceritakan sebuah kisah lampau.... Pada suatu masa, terdapat sebuah hutan besar yang memisahkan kerajaan Magadha dari dua kerajaan lainnya. Bodhisatta lahir di Magadha, sebagai salah satu dari keluarga Brahmana yang agung. Ketika dewasa, ia meninggalkan kesenangan duniawinya dan masuk ke hutan di mana ia membangun sebuah pertapaan dan tinggal di sana.

 

Tidak begitu jauh dari pertapaan ini, di dalam rumpun bambu, tinggallah seekor merpati hutan dengan pasangannya; di sebuah bukit semut tinggallah seekor ular; di dalam sebuah daerah semak belukar seekor serigala membuat tempat tinggal: dan di tempat lainnya tinggal seekor beruang. Keempat binatang ini sering mengunjungi orang bijaksana ini dari waktu ke waktu dan mendengarkan ceramahnya. Suatu hari sang merpati bersama pasangannya pergi meninggalkan sarang untuk mencari makanan. Merpati betina berangkat belakangan, dan pada saat ia berangkat, seekor elang menerkam dan membawanya pergi. Mendengar teriakannya, merpati jantn melihat ke belakang dan menyaksikan elang itu membawanya pergi! Elang itu membunuhnya di tengah-tengah jeritannya, dan melahapnya. Sekarang terbakarlah merpati jantan dengan api cinta terhadap pasangannya yang dipisahkan darinya secara paksa. Kemudian, ia berpikir, "Nafsu ini sangat menyiksaku, aku tidak akan pergi mencari makan lagi sampai aku menemukan bagaimana cara menundukkannya."

 

Demikian dengan membatalkan usaha pencarian makannya, pergilah ia kepada sang pertapa dan mengangkat sumpah untuk menundukkan nafsu dan bersila di satu sisi. Sang ular juga berpikir bahwa ia akan pergi mencari makanan, keluarlah ia dari sarangnya dan mencari makanan di jalanan yang dilalui kerbau, di dekat desa penduduk. Ada seekor kerbau milik kepala desa bertubuh putih dan sangat besar. Ia baru makan dan kemudian berlutut di tepi sebuah bukit semut dan menghentakkan tanah dengan tanduknya sebagai olahraga. Sang ular merasa ngeri dengan suara ribut yang ditimbulkan kuku-kuku kerbau tersebut dan berlari untuk bersembunyi di dalam sarang semut. Kebetulan kerbau itu menginjak sang ular. Ular marah dan kemudian menggigit kerbau itu hingga mati saat itu juga.Ketika penduduk desa mengetahui kematianya, mereka semua berlarian ke tempat kejadiaan sambil menangis. Kerbau yang mati itu dihormati dengan karangan bunga dan dikubur.

 

Sang ular keluar setelah mereka pergi, lalu berpikir, "Karena kemarahan, aku telah mencabut nyawa makhluk ini, dan aku telah menyebabkan kesedihan banyak orang. Aku tak pernah akan lagi keluar mencari makanan hingga aku sudah mempelajari bagaimana cara menundukkannya." Ia kemudian berbalik dan pergi ke pertapaan. Di sana ia mengangkat sumpah untuk menundukkan kemarahan dan bersila di satu sisi. Demikian juga sang serigala pergi mencari makanan, dan menemukan bangkai gajah. Dia meluap dalam kegembiraan, "Banyak makanan disini!" cetusnya setengah berteriak.

 

Ia mencicipi belalainya, namun rasanya seperti menggigit batang pohon. Ia tak suka, kemudian menggigit gadingnya, namun rasnya seperti menggigit batu, lalu dicoba perutnya, rasanya seperti sebuah keranjang. Kemudian ia menggigit pahanya, dan ya! Rasanya lembut seperti GHEE, kue mentega. Si serigala sangat menyukainya sehingga dia menggigit sebuah jalan ke dalam. Di sana dia tinggal, makan ketika lapar, dan ketika haus meminum darahnya, dan ketika berbaring, mengembangkan bagian dalam dan paru-paru makhluk itu sebagai tempat tidur.

 

"Di sini," dia berpikir, "aku sudah menemukan makanan dan minuman untukku, dan juga tempat tidurku; untuk apa pergi ke tempat lain?"

 

Tinggallah ia disana, tercukupi dengan baik dan sama sekali tdak pernah keluar. Tetapi lama-lama bangkai itu menjadi kering oleh angin dan panas, dan jalan keluar melalui dubur telah tertutup.Sang serigala merasa tersiksa saat mulai kehabisan darah dan daging, tubuhnya menguning, tetapi bagaimana cara keluar dari tempat itu, diapun tidak tahu.

 

Kemudian suatu hari datanglah badai yang tidak terduga, jalan keluar dari tubuh gajah itu menjadi basah dan mulai melembut, serta mulai terbuka lebar. Ketika melalui celah itu, sang serigala berseru,"Sudah terlalu lama aku tersiksa disini dan sekarang aku akan keluar melalui lubang ini."

 

Kemudian dia keluar dengan kepala terlebih dahulu. Sekarang jalan itu sudah menyempit. Dia menerobos dengan cepat sehingga badannya menjadi memar dan bulunya tanggal semua. Ketika berhasil keluar, badannya menjadi gundul seperti batang pohon palma, tidak sehelai rambutpun yang terlihat di tubuhnya.

 

"Ah," pikirnya, "ketamakankulah yang telah mendatangkan semua kesulitan ini. Aku tak akan pernah keluar mencari makanan lagi hingga aku sudah mempelajari bagaimana cara menundukkan ketamakanku."

 

Ia kemudian pergi ke pertapaan dan mengangkat sumpah untuk menundukkan ketamakan dan bersila di satu sisi.

 

Sang beruang juga keluar dari hutan. Karena diperbudak kerakusan, ia pun pergi ke desa perbatasan di kerajaan Mala.

 

"Di sini ada beruang!" teriak semua penduduk desa; dan keluarlah mereka dengan senjata-senjata seperti busur, tongkat, batang besi dan apa saja dan mengepung semak-semak dimana dia bersembunyi. Karena menemukan dirinya dikelilingi kerumunan orang, maka ia pun menerjang keluar untuk membuka jalan, dan begitu dia keluar mereka telah menunggunya dengan busur dan gada. Ia pulang dengan kepala koyak berlumuran darah.

 

"Ah,"pikirnya, "karena kerakusanku yang berlebihanlah aku mengalami semua kesulitan ini. Aku tidak akan pernah lagi keluar mencari makan sampai aku sudah mempelajari bagaimana menundukkannya." Ia pergi ke pertapaan, dan mengangkat sumpah untuk menundukkan ketamakan dan bersila di satu sisi.

 

Tetapi sang pertapa tidak mampu mencapai ketenangan batin, karena diliputi oleh kebanggaan akan kelahirannya yang agung. Seorang Pacceka Buddha mengetahui bahwa ia dikuasai oleh kebanggaan, namun melihat dengan mata batin bahwa ia bukan makhluk biasa.

 

"Laki-laki itu ditakdirkan menjadi Buddha, dan dalam lingkaran kalpa kehidupan inidia akan mencapai kebijaksanaan sempurna. Saya akan membantunya menundukkan kebanggaannya, dan saya akan menyebabkan dia mengembangkan pencapaian."

 

Demikian sewaktu sang pertapa duduk di dalam gubuknya yang terbuat dari daun, Pacekka Buddha turun dari puncak Himalaya dan duduk di atas batu sang pertapa. Sang pertapa keluar dan melihatnya di atas tempat duduknya, dan dalam kebanggaan, ia tidak mampu mengendalikan dirinya.

 

Ia bangkit dan membentaknya, "Terkutuk kau, orang kotor tak guna, kepala botak munafik, mengapa kau duduk di tempatku?"

 

"Hai, orang suci," kata Sang Pacceka Buddha, "mengapa engkau dikuasai oleh kebanggaan? Saya telah menembusi kebijaksanaan Pacceka Buddha dan saya akan memberitahu kamu bahwa dalam lingkaran kehidupan ini engkau akan menjadi maha tahu; engkau ditakdirkan menjadi Buddha. Saat engkau mengembangkan kebajikan sempurna, setelah beberapa selang waktu berikut engkau akan menjadi seorang Buddha, dan ketika engkau menjadi Buddha, Siddharta akan menjadi namamu." Kemudian beliau memberitahunya nama, suku, marga, keluarga, murid-murid utamanya, dan seterusnya.

 

Beliau kemudian berkata, "Sekarang mengapa engkau begitu bangga dan bernafsu? Hal itu tidak akan berguna bagimu." Begitulah nasehat dari Pacceka Buddha. Terhadap kata-kata ini, sang pertapa tidak menanggapi: tiada salam, tiada pertanyaan seperti kapan atau dimana atau bagaimana dia akan menjadi seorang Buddha.

 

Kemudian tamu tersebut berkata, "Bandingkanlah ukuran kelahiranmu drngan kekuatanku, dengan ini: jikalau engkau mampu, bangkit dan berjalanlah di udara seperti saya."

 

Setelah berkata demikian, Beliau bangkit di udara dan menepis jatuh debu-debu kakinya diatas gelungan rambut pertapa tersebut. Beliau kemudian kembali ke puncak Himalaya. Pada saat keberangkatannya, sang pertapa dikuasai oleh kesedihan.

 

"Dia adalah orang suci," katanya, "dengan tubuh yang berat seperti itu, melewati udara seperti kapas yang diterbangkan angin! Orang seperti dia, seorang Pacceka Buddha; namun aku tidak pernah mencium kakinya. Karena kebanggaan akan kelahiranku, aku tidak pernah menanyakan kapan aku akan menjadi Buddha. Apa yang dapat diperbuat kelahiran ini padaku? Di dunia ini, kekuatan adalah hidup yang baik, tetapi kebanggaanku ini akan membawaku ke neraka. Aku tidak akan pernah lagi keluar mencari buah-buahan sampai aku mempelajari 0bagaimana menundukkan kebanggaanku ini."

 

Kemudian ia memasuki gubuk dan mengangkat sumpah untuk menundukkan rasa bangganya. Duduk di atas matras rantingnya, pertapa muda itu menundukkan rasa bangganya, mencapai jhana, mengembangkan abhinna, kemudian keluar dan duduk diatas tempat duduk batu yang ada di ujung jalan.

 

Kemudian sang merpati dan yang lainnya datang, menghormatinya dan duduk dia satu sisi. Si pertapa berkata kepada sang merpati, "Di hari-hari sebelumnya, kalian tidak pernah datang ke sini pada saat seperti ini, tetapi pergi mencari 0makanan; apakah kalian menjalani puasa Sabbath hari ini?"

 

"Ya, tuan, saya melaksanakannya."

 

Kemudian ia berkata, "Mengapa begitu?" sambil melantunkan bait pertama: "Kamu puas dengan sedikit makanan, aku yakin. Apakah engkau tidak ingin makan sekarang, O merpati? Mengapa kelaparan dan haus ditahan dengan rela? Mengapa engkau melaksanakan sumpah Sabbath?"

 

Sang merpati menjawab dalam dua bait :

"Sekali waktu penuh keserakahan, pasanganku dan aku berlaku seperti kekasih bersama di sekitar sini. Datang elang menerkam, dan membawanya terbang: dia terpisah dariku, dia yang kucintai!"

"Dengan berbagai cara aku mengatasi kehilangan yang kejam ini; Aku merasa sakit dalam segala hal yang kulihat; Karena itu pada sumpah Sabbathku aku datang meminta tolong; nafsu itu semoga tidak akan pernah lagi kembali."

 

Ketika sang merpati telah memuji tindakannya sehubungan dengan sumpah yang diucapkannya, Makhluk Agung menanyakan hal yang sama kepada sang ular dan yang lainnya satu persatu. Mereka menyatakan masing-masing alasannya.

 

"Hai penghuni pohon, ular yang melingkar dan merayap dengan perut, dipersenjatai dengan taring yang kuat dan racun yang cepat dan pasti, sumpah Sabbath ini mengapa engkau menjalankannya? Mengapa dengan rela engkau tanggung haus dan lapar?"

 

"Kerbau kepala desa penuh kekuatan, Dengan punuk yang bergetar, indah dan baik,Dia menginjakku, dan dalam kemarahan aku menggigitnya: Ditusuk rasa sakit dia mati saat itu juga."

 

"Keluarlah para penduduk desa setiap orang, menangis dan meratap melihat pemandangan itu. Karena itu kepada sumpah sabbathlah aku meminta tolong: nafsu itu semoga tidak akan kembali."

 

"Daging bangkai bagimu adalah makanan yang mewah dan jarang, juga mayat yang terletak membusuk di tanah. Mengapa serigala menahan haus dan lapar? Mengapa menjalankan sumpah sabbath, mengapa?"

 

"Aku menemukan gajah dan menyukainya. Karena itu aku tinggal di dalam perutnya. Tetapi panasnya angin dan sinar matahari mengeringkan jalan keluar yang kubuat." "Aku menjadi kurus dan kuning, tuanku! Tidak ada jalan keluar, aku harus menetap. Kemudian datanglah badai yang mengguyur dengan lebat, melembabkan dan melembutkan jalan keluar itu."

 

"Kemudian untuk keluar aku tidak lama-lama lagi, seperti bulan yang lolos dari cengkraman Rahu. Karena itu kepada sumpah Sabbathlah aku meminta tolong: keserakahan itu semoga dapat dijauhkan dariku,itulah sebabnya."

 

"Merupakan kebiasaanmu untuk mengambil makanan, dari semut di atas tumpukan semut, tuan beruang, mengapa sekarang rela menanggung lapar dan haus? Mengapa rela mengucapkan sumpah sabbath?"

 

"Dari keserakahan yang berlebihan aku mencemooh rumahku sendiri, ke Malata aku tergesa-gesa pergi. Keluar dari desa semua orang datang, dengan busur dan gada mereka memukuliku."

 

"Dengan berlumuran darah dan kepala pecah, aku tergesa-gesa pulang ke tempat tinggalku. Karena itu kepada sumpah Sabbathlah aku datang: Keserakahan ini semoga tidak mendekat lagi."

 

Jadi mereka semua memuji tindakan mereka menjalankan sumpah tersebut; kemudian bangkit dan menghormati Boddhisatta, mereka menanyakan pertanyaan ini, "Tuan, di hari-hari sebelumnya engkau keluar pada waktu ini untuk mencari buah-buahan liar. Mengapa hari ini tidak, malahan menanyakan tentang sumpah Sabbath?"

 

Beliau menjelaskannya kepada mereka :

"Ada Pacceka Buddha yang datang, dan tinggal sebentar di pondokku, serta menunjukkan kedatangan dan kepergianku, nama dan ketenaran, keluarga, dan semua jalan masa depanku."

"Karena diliputi oleh kebanggaan, aku tidak bersujud di kakinya, aku tidak menanyakannya lagi. Karena itu kepada sumpah Sabbathlah aku meminta tolong: kebanggan ini semoga tidak akan mendekat kepadaku lagi, seperti pada kalian."

 

Dengan cara ini Bodhisatta menjelaskan alasannya memilih untuk menjalankan sumpah ini. Kemudian beliau menasehati mereka, dan mempersilahkan mereka pergi, baru setelah itu masuk ke dalam pondoknya; dan semua pulang ke tempat masing-masing. Bodhisatta, tanpa berpaling lagi dari kebahagiaannya dalam pencapaian ketenangan kemudian terlahir kembali ke alam Brahma. Yang lainnya, karena selalu mengingat nasehatnya, terlahir kembali bersama dengan penghuni surga.

 

Sang Bhagava, setelah menyelesaikan ceramah ini, berkata, "Jadi, para umat awam, sumpah Sabbath adalah kebiasaan dari orang-orang bijaksana masa lampau, dan harus dijaga terus sekarang."

 

Kemudian Beliau mengidentifikasi kelahiran tersebut. "Pada saat itu, Anuruddha adalah merpati, Kassapa adalah beruang, Moggallana adalah serigala, Sariputra adalah ular, dan saya sendiri adalah sang pertapa."

 

[Dikutip dari Majalah Buddhis Indonesia Edisi 83 & 84.]

 

 

Hits: 89